Ray dan Breastmilk Jaundice
Hari ini tepat 1 bulan 18 hari usia Ray. Cepat sekali waktu berlalu ya... Perkembangan Ray hingga kini banyak sekali. Mulai dari gerakannya yang super aktif, sampai ekspresinya saat ketawa spontan atau ngeden mau pup. Atau juga tangisan super heboh tiap jam 9 malam sampai jam 2 subuh.
Kemarin, kami bertiga kembali konsultasi ke rumah sakit untuk menjawab kekhawatiranku tentang jaundice atau kuning pada bayi. Seputar jaundice ini, Ray sudah diambil darah beberapa kali untuk tahu kadar bilirubinnya. Terakhir cek, Ray tepat berusia 1 bulan, kami manfaatkan BPJS untuk periksa bilirubin Ray di RS Bhakti Asih, cukup dekat dengan RS Sari Asih (Asih Bersaudara).
Hasil tes bilirubin akhir Ray, Direct 0.17 dan Indirect 7.01, Totalnya 7.18 mg/dl. Alhamdulillah... sudah dibawah 10 mg/dl, masih dalam angka normal, meski angka normal bilirubin total sekitar <1.5 0 mg/dl. Masih jauh memang, setidaknya angka itu jauh dibawah angka bilirubin Ray pertama kali, sebelum di fototherapy. Bilirubin total Ray waktu itu mencapai 16.67 mg/dl. Kalau sampai 20 mg/dl bisa kejang, bahaya banget kan. Sampai sekarang sisa kuning di Ray masih terlihat jelas. Matanya masih kuning, kulitnya pun kalau ditekan masih kuning, dan daerah mukanya masih kuning sekali. Dengan tau kadar bilirubin terakhir, setidaknya kekhawatiranku sedikit berkurang.
Kami kembali konsultasi kesehatan Ray dengan dr. Ami di RS Sari Asih, kami pilih beliau karena praktek juga di KMC. Klinik di daerah kemang yang terkenal bagus, dan juga mahal (nangis bawang). Siapa tahu dr. Ami ini enak diajak konsul dan komunikatif. Dan memang benar, dr. Ami menjawab semua kekhawatiran kami dengan sangat tenang. Mulai dari kuning, refluks lambung yang bikin gumoh muntah, kolik akibat kegalauan ortunya, dan berat badan Ray yang kegembukan akibat kebanyakan mimik ASI. Ray lahir dengan berat 3.0 kg dan kini beratnya 4.7 kg, naik 1.7 kg dalam waktu 47 hari, seharusnya sekitar 700 gr perbulan. Untuk kuningnya Ray, dari kesimpulan dr. Ami, aku didiagnosis Breastmilk Jaundice, kondisi spesial dari ASI ibu2 tertentu yang membuat bayinya kuning. Kuning bisa hilang secara lamban setelah 10 minggu. Kondisi ini setidaknya membuat kami jadi lebih siaga, kalau-kalau nanti kasus adiknya Ray sama.
Menurut dr. Ami, secara keseluruhan Ray sehat walafiat. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalaupun ada, dr. Ami membekalkan kami berlembar2 rujukan tes lab dan USG abdomen. Meski beliau tidak mengharuskan kami untuk melakukan semua itu. Menurutnya, sisa kuning Ray juga sudah sedikit sekali. Aku hanya harus bersabar sampai kuningnya turun dengan sendirinya. Yang perlu dikhawatirkan kalau Ray lemas dan kelihatan sakit. Karena kondisi Ray sehat, saat itu pula Ray divaksin hepatitis B yg ke 2, dan kembali lagi bulan depan untuk vaksin BCG. Seusai konsul kemarin, kami pun pulang dengan perasaan bahagia dan lega. Abi bilang kalau aku hanya terlalu khawatir. Kekhawatiran itu bisa dirasakan anak, apalagi berasal dari ibu. Mungkin juga karena aku galau, makanya tiap malam Ray nangis tanpa sebab. Maafkan bunda ya Ray...Huhuuu... Namanya juga Ibu.
Selepas kekhawatiran yang telah terjawab itu, kami menutupnya dengan makan lele bakar penyet yang enak bingits di dekat rumah. Nyam... Nyaamm....
Hari ini tepat 1 bulan 18 hari usia Ray. Cepat sekali waktu berlalu ya... Perkembangan Ray hingga kini banyak sekali. Mulai dari gerakannya yang super aktif, sampai ekspresinya saat ketawa spontan atau ngeden mau pup. Atau juga tangisan super heboh tiap jam 9 malam sampai jam 2 subuh.
Kemarin, kami bertiga kembali konsultasi ke rumah sakit untuk menjawab kekhawatiranku tentang jaundice atau kuning pada bayi. Seputar jaundice ini, Ray sudah diambil darah beberapa kali untuk tahu kadar bilirubinnya. Terakhir cek, Ray tepat berusia 1 bulan, kami manfaatkan BPJS untuk periksa bilirubin Ray di RS Bhakti Asih, cukup dekat dengan RS Sari Asih (Asih Bersaudara).
Hasil tes bilirubin akhir Ray, Direct 0.17 dan Indirect 7.01, Totalnya 7.18 mg/dl. Alhamdulillah... sudah dibawah 10 mg/dl, masih dalam angka normal, meski angka normal bilirubin total sekitar <1.5 0 mg/dl. Masih jauh memang, setidaknya angka itu jauh dibawah angka bilirubin Ray pertama kali, sebelum di fototherapy. Bilirubin total Ray waktu itu mencapai 16.67 mg/dl. Kalau sampai 20 mg/dl bisa kejang, bahaya banget kan. Sampai sekarang sisa kuning di Ray masih terlihat jelas. Matanya masih kuning, kulitnya pun kalau ditekan masih kuning, dan daerah mukanya masih kuning sekali. Dengan tau kadar bilirubin terakhir, setidaknya kekhawatiranku sedikit berkurang.
Kami kembali konsultasi kesehatan Ray dengan dr. Ami di RS Sari Asih, kami pilih beliau karena praktek juga di KMC. Klinik di daerah kemang yang terkenal bagus, dan juga mahal (nangis bawang). Siapa tahu dr. Ami ini enak diajak konsul dan komunikatif. Dan memang benar, dr. Ami menjawab semua kekhawatiran kami dengan sangat tenang. Mulai dari kuning, refluks lambung yang bikin gumoh muntah, kolik akibat kegalauan ortunya, dan berat badan Ray yang kegembukan akibat kebanyakan mimik ASI. Ray lahir dengan berat 3.0 kg dan kini beratnya 4.7 kg, naik 1.7 kg dalam waktu 47 hari, seharusnya sekitar 700 gr perbulan. Untuk kuningnya Ray, dari kesimpulan dr. Ami, aku didiagnosis Breastmilk Jaundice, kondisi spesial dari ASI ibu2 tertentu yang membuat bayinya kuning. Kuning bisa hilang secara lamban setelah 10 minggu. Kondisi ini setidaknya membuat kami jadi lebih siaga, kalau-kalau nanti kasus adiknya Ray sama.
Menurut dr. Ami, secara keseluruhan Ray sehat walafiat. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalaupun ada, dr. Ami membekalkan kami berlembar2 rujukan tes lab dan USG abdomen. Meski beliau tidak mengharuskan kami untuk melakukan semua itu. Menurutnya, sisa kuning Ray juga sudah sedikit sekali. Aku hanya harus bersabar sampai kuningnya turun dengan sendirinya. Yang perlu dikhawatirkan kalau Ray lemas dan kelihatan sakit. Karena kondisi Ray sehat, saat itu pula Ray divaksin hepatitis B yg ke 2, dan kembali lagi bulan depan untuk vaksin BCG. Seusai konsul kemarin, kami pun pulang dengan perasaan bahagia dan lega. Abi bilang kalau aku hanya terlalu khawatir. Kekhawatiran itu bisa dirasakan anak, apalagi berasal dari ibu. Mungkin juga karena aku galau, makanya tiap malam Ray nangis tanpa sebab. Maafkan bunda ya Ray...Huhuuu... Namanya juga Ibu.
Selepas kekhawatiran yang telah terjawab itu, kami menutupnya dengan makan lele bakar penyet yang enak bingits di dekat rumah. Nyam... Nyaamm....

No comments:
Post a Comment